Trending

Usai Heboh Video Porno Siswi SMA Blasteran, Cianjur Tambah Jam Pelajaran Agama

Bupati Cianjur Herman Suherman menginstruksikan SD dan SMP di wilayahnya menambah jam mata pelajaran agama, menyusul heboh video porno siswi SMA blasteran.

“Dengan dasar agama yang bagus, tentunya para siswa tidak akan mudah terjerumus dalam pergaulan yang negatif seperti seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan hubungan sesama jenis,” kata Herman kepada kumparan, Jumat (15/12).

Herman tidak bisa langsung menindak kasus video porno siswi berseragam batik SMAN 1 Sukaresmi Cianjur karena kebijakan dan kewenangan pendidikan tingkat SMA berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Namun, kita (pemerintah kabupaten) tetap melakukan upaya-upaya pemahaman dan pencegahan agar para siswa di seluruh tingkat pendidikan di Kabupaten Cianjur tidak terjerumus ke hal-hal negatif,” ujarnya.

Pun begitu, Herman mengecam beredarnya video porno itu.

“Saya mengecam, tentunya itu sudah mencoreng. Cianjur merupakan kota santri, gudangnya ulama, tapi masih ada hal seperti itu terjadi,” kata Herman.

Video Porno Itu

Video porno pelajar Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, beredar di aplikasi perpesanan WhatsApp. Yang siswi berseragam batik SMAN 1 Sukaresmi.

Dalam video berdurasi 1 menit 19 detik itu tampak pasangan pelajar tengah melakukan adegan porno di sebuah sudut ruangan.

Kepala SMAN 1 Sukaresmi, Dede Dadan Nurjaman, mengatakan siswi yang ada di video itu merupakan alumni sekolahnya, tercatat sebagai siswi pada tahun pelajaran 2017-2018.

“Betul, pemeran perempuan di video asusila yang beredar ini merupakan alumni,” kata Dede kepada wartawan, Senin (11/12).

Dede mengungkapkan telah menelusuri keberadaan dari para pemeran yang ada di video asusila itu.

“Kita sudah lakukan komunikasi dengan keluarga dari siswi alumni ini. Jadi yang bersangkutan merupakan blasteran Pakistan, ibunya warga Indonesia, bapaknya Pakistan. Video asusila ini sudah lama dibuatnya sekitar 2017 lalu saat siswi ini masih berstatus pelajar di kami,” jelasnya.

Sementara itu, untuk pemeran laki-lakinya, kata Dede, pihaknya tidak mengetahui siswa atau pun orang mana. Karena, berdasarkan hasil penelusuran tidak ditemukan identitasnya.

“Untuk pemeran laki-lakinya, bukan siswa alumni di kita. Tidak tahu, apakah saat itu masih berstatus pelajar atau bukan,” ujarnya.

Dede menegaskan, pihaknya telah memaksimalkan pengawasan terhadap para siswa agar tidak ada lagi kasus serupa di saat kepimpinannya.

“Ini pelajaran bagi kita semua, kita pastikan siswa dan siswi yang saat ini berstatus pelajar di sekolah kita tidak terjerumus dalam pergaulan seks bebas ataupun narkoba,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *